Dulu tahun 2001 indonesia dilanda trend ber hp ria. Semua orang mulai pengen punya HP (Mobile Phone, Hand Phone). Orang yang nggak punya HP nggak keren. Orang yang nggak punya HP nggak kece. Orang yang nggak punya HP kurang kekinian. Sehingga setiap orang berupaya untuk memiliki HP. Saking pengennya bahkan HP-HP bekas pun menjadi laris. Pada saat itu, HP adalah barang mewah yang tidak semua orang bisa membelinya. Harga masih terlalu tinggi, termasuk saya sendiri. waktu itu saya masih kuliah semester 9 atau 10 lah. Saya juga pengen punya HP tapi apa daya uang tak ada. Akhirnya, upaya yang saya lakukan adalah membeli kredit..hahahhaa
Ketika trend HP telah melanda, kita pernah mendengar istilah HP sejuta umat. Ya, HP sejuta ummat. HP yang dikatakan sebagai HP sejuta ummat waktu itu adalah nokia 3310. kenapa HP sejuta ummat? karena semua orang ingin menggunakan HP ini, semua orang ingin memiliki HP ini dan semua orang ingin ber HP dengan type 3310, oleh sebab itu, terjadi "kelarisan" jualan HP dengan type 3310.
Saya tak ingin membahas tentang Hp, tapi saya ingin membahas, apa sih bisnis yang menjadi bisnis sejuta ummat? emang ada bisnis sejuta ummat, mungkin bahkan puluhan juta ummat?. hehehe. ada nggak ya? sepertinya ada. Sepanjang perjalanan saya berbsinis dan pengalaman saya menjadi konsultan retail, saya melihat bisnis yang menjadi bisnis sejuta ummat adalah bisnis retail. Ya, bisnis retail. Coba anda saksikan di pasar-pasar, jalanan, Mall, pusat pertokoan, kampus, depan mesjid, depan gereja, pusat perkantoran, pusat kebugaran pusat wisata, pasti dipenuhi oleh manusia yang jualan yakni Jualan Retail. Jualan retail yang saya maksud adalah orang yang menjual semua kebutuhan hidup yang berkaitan dengan kebutuhan manusia seperti, SEMBAKO, sabun, ATK, Kertas, Sepatu, baju, Celana dalam, Baju dalam, baju anak, celana anak, sayuran, buah-buahan dan lain sebagainya. nah, kalau kita mulai berfikir, dan mendalami fikiran kita, bisnis ini sepertinya udah berusia puluhan, ratusan dan bahakan ribuan tahun. So, bisnis retail adalah bisnis ratusan juta ummat. Ummat diseluruh dunia, pasti ada yang berbisnis retail.
Kenapa banyak orang berbisnis retail? menurut saya karena ini sudah menjadi budaya, sudah menjadi trend yang nggak pernah mati, sudah menjadi kebutuhan ummat dan mungkin yang paling hebat menurut saya adalah "BISNIS INI SANGAT MUDAH UNTUK DIJALANI", "BISNIS INI SUDAH MENJADI TRADISI", dan "BISNIS INI TAK AKAN MATI DIMAKAN ZAMAN".
nah...kami banyak mendampingi toko retail di Jogja dan belahan bumi nusantara ini, saya akan bagikan kisahnya satu persatu yaa....
to be continued
Adri Syahrizal Adalah Seorang Wirausaha yang dulu memulai usahanya dengan menjadi salah satu "pelapak Di Sunday Morning (SUNMOR) UGM. Kemudian juga memiliki usaha On line berbasis FB. Merangkak terus, akhirnya Alhamdulillah mendirikan (Founder) Ritelteam Indonesia. Ritelteam Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang Konsultansi Manajemen Minimarket Moderen, Penjualan Rak Minimarket, Software Minimarket. Kalau Mau Curhat bisnis dan konsultasi Boleh ya WA saja 08112652078
Wednesday, 2 November 2016
Tuesday, 1 November 2016
Serial PATENKU 7 (Penjual Rujak)
Banyak hal yang bisa jadi i'tibar kita di dunia ini. Alam diciptakan oleh Allah SWT sebagai wujud kecintaan Allah kepada makhluk-Nya, sekaligus menunjukkan Maha kuasa, Maha Pencipta, Maha Pengatur dan Maha Berkehendaknya Allah SWT. Kita sebagai manusia diberikan akal untuk berfikir, akal untuk mencerna, akal untuk berlogika. Kalau manusia tidak diberikan akal, maka sama halnya dengan ciptaan Allah yang lain, seperti pepohonan, binatang dan dalin sebagainya, Maka Akal adalah salah satu "kelebihan" yang ada pada diri manusia.
Menggunakan akal pikiran sebagai perwujudan dari anugrah Allah itu sebuah keharusan. Gunakanlah akal untuk berfikir kepada yang baik-baik, gunakanlah akal untuk selalu berfikir bagaimana caranya bisa eksis di dunia fana ini, Gunakanlah akal untuk mewujudkan rasa syukur kepada kepad Allah dengan menyembah dan hanya fokus pada Allah. Kehidupan dunia bukanlah harus di takuti dan dijauhi, tapi jadikan dia sebagai "jembatan" kita untuk mengantarkan "tambahan amunisi" pahala kita untuk suatu saat ketika Allah menimbang segala pertanggungjawaban kita sebagaoi manusia.
Saya sering mengamati, dan menarik perhatian saya, ketika melihat para pejuang yang mencoba untuk hidup di dunia ini dengan bekerja keras, susah payah dan mereka mengeluarkan semua potensi dirinya untuk bisa eksis di dunia ini. Allah menciptakan kita di dunia ini bukan untuk berleha-leha, tidur seharian, duduk-duduk santai, atau kongkow-kongkow nggak penting dan segala hal prilaku malas yang membuat kita tidak memiliki harga diri dan akhirnya "kufur nikmat". kenapa saya mengatakan kufur, karena kita tidak mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang ada pada diri kita untuk menjadi ciptaan Allah yang bermanfaat bagi manusia sesama dan bagi dirinya sebagai "khalifah' yang harus tunduk dan taat pada Allah sang pencipta.
Kali ini yang menjadi perhatian saya adalah "penjual rujak" dan es rujak. bagi saya yang menggeluti dunia usaha, seringg menggelitik saya, kok kayaknya saya pengen juga jadi penjual rujak. Hal ini terbetik ketika, hari panas, kemudian haus dan rasanya pengen makan buah yang segar-segar. Saya saksikan waktu itu, penjualm rujak di jalan kaliurang. dengan sigap dan semangatnya dia melayani para konsumen yang ingin mencoba menikmati hasil racikan tangan sang penjual. Saya juga mencoba menghampiri. pada saat giliran saya, konsumen dah pada sepi, nah maka saat itu saya gunakan untuk berdialog.
Saya : Mas, kok mau jualan ginian?
Penjual : Yaa bagaimana lagi mas, wong aku harus hidup je, kalau nggak jualan mau dapat uang dari mana?
Saya : emang udah nikah mas? trus uangnya buat apa?
Penjual : belum seeh, makanya uangnya buat biaya nikah mas
Saya : lha sampeyan ki masih muda, kan banyak kerjaan lain yang menarik dan bagus, kok mau jualan di pinggir jalan gini?
Penjual : eeeh,,jangan salah mas, kerja gini enak, Saya di sini jadi bos walaupun punya bos juga, karena kami sistemnya bagi hasil.
Saya : bagi hasil piye?
Penjual : ya iya, gerobak ini dari si bos, nah saya di target minimal dapat 3000.000/hari, nah sisanya nanti itu jatah saya...enak toh???nah kalau saya jualan dari pagi ampe siang aja udah habis, nah kalau udah habis kadang saya bisa dapat 100-150,000/hari...lumayankan mas...
Itulah sekelumit kisah yang dia ceritakan, bagi saya ada 2 orang hebat di atas, yang pertama adalah Bos yang punya gerobak dan bahan dan kedua adalah anak muda sang penjual tersebut. mereka mengerti arti sebuah kerjasama, mereka saling mensejahterakan satu sama lain, Mereka keduanya adalah Bos bagi dirinya sendiri. Bagi Anak muda tersebut, kalau dia ingin mendapatkan lebih maka dia bisa buka dari pagi sampai malam...tapi terkadang sore jualannya sudah habis, nah malamnya bisa di gunakan untuk aktifitas lainnya. Bagi si Bos, dia merasa dengan 300.000/hari dia sudah merasa cukup, mungkin karena dia juga memiliki gerobak dan tim yang lain. kalau nggak salah waktu itu disebutkan sama mas penjula, si Bos punya 5 , salah satunya dia sendiri yang juga turut menjadi penjual. Bayangkan kalau 5 gerobak, kalau pendapatannya 300.000/hari x 5 = 1.500.000. Kalaau keuntungannya bisa 35% berapa sudah dia bisa mengantongi keuntungan.
Yang jadi menarik adalah, sebuah hal yang sederhana apabila dilihat orang banyak, sepertinya kecil namun menghasilkan sesuatu yang besar. Banyak orang menganggap remeh sebuah usaha bisnis. Keliahatan nggak intelek, nggak keren dan nggak "gaya" dan nggak "kekinian" namun mampu memnciptakan sebuah hasil "yang luar biasa dahsyat". Dahsyatnya bagi mereka lebih baik berfikir kecil namun menjadi "Berharga dan Bermartabat" daripada kebanyakan orang lain yang "berfikir besar" tapi mengurangi martabatnya. Saksikanlah para pejabat yang hebat dan birokrat yang "seolah" mereka hebat dan bermartabat kalau mereka korupsi maka nilai mereka sama halnya dengan para "pengemis" dan "pelacur ekonomi" karena mereka sama halnya dengan orang yang menjual "harkat dan martabatnya" demi mengejar "Harta, Pangkat, Jabatan, Prestise dan Gengsi hidup" tapi mereka sebenarnya "Nothing".