"Power of Si Mbah"
Pagi itu, setelah saya mengantarkan Auhdy ke sekolah pukul 07.00 , kemudian lanjut ke sebuah tempat dimana saya akan mengisi pelatihan yang bertajuk "Pelatihan Manajemen Minimarket Moderen". Pagi itu, jadwal saya memang harus menjadi nara sumber, yang diharapkan akan memberikan sharing tentang pengetahuan berbagai macam hal yang berkaitan dengan manajemen Minimarket khusus minimarket moderen lokal danmandiri. Saya dijadwalkan masuk pukul 08.30 yang seharusnya pukul 09,00 , namun karena Hari Jumat maka saya minta panitia untuk mempercepat jadwalnya, supaya nanti tidak kebablasan untuk Jumatan.
Aktifitas mengantar Audhy biasanya mulai pukul 07.00 dan sampai sekolah biasanya pukul 07.15. Pukul 07.15 masih terlalu pagi dan saya berfikir, mungkin lokasi pelatihan juga belum buka, maka saya iseng-iseng membaca Novel Judul "Wigati" sebuah novel yang bercerita tentang perjuangan seorang anak perempuan bernama Wigati dalam hal mencari "siapa ayah kandungnya" dan dia harus mempertemukan pula keris dari kakeknya yang ahli membuat keris. Ah, pokoknya Novel ini berlatar pondok pesantren dan banyak mengelaborasi tentang kultur jawa yang selalu lekat dengan sesuatu yang berbau magis.
Tepat Pukul 07.30 saya beranjak pergi dan mengendarai mobil yang saya bawa sendiri menuju lokasi. Dalam perjalan banyak hal yang terlintas dalam pikiran saya tentang perusahaan yang saya miliki, usaha istri saya yang juga butuh perhatian khusus dan banyak lagi hal lainnya. Selain itu, saya juga lagi mikir tentang materi apa yang akan saya sampaikan nanti dalam pelatihan. Pokokke intinya semua bicara tentang Bisnis , bisnis dan bisnis. ah..hidup harus selalu bersentuhan dengan bisnis, apapun semua bisnis, jualan bisnis, politik juga bisnis, kehidupan seksual juga bisnis, pendidikan apalagi, sekarang juga sudah menjadi ladang bisnis, kesehatan? hmm rumah sakit aja untuk layanan yang canggih, bersih dan rapi juga sudah dibisniskan. Orang sakit, adalah "konsumen potensial" untuk mendulang uang , Oh Bisnis.
Sampai lokasi, saya lihat jam, masih menunjukkan Pukul 08.00, pintu kantor juga belum dibuka, tidak ada satupun manusia di dalamnya, akhirnya saya berfikir harus cari tempat tongkrongan, Clingak-clinguk beberapa tempat, mata saya tertumbuk pada satu spanduk yang biasa dipakai untuk menutupi tempat jualan makanan, Ah saya pikir di situ sajalah...sekalian mau lihat seperti apa kondisinya. Saya matikan mobil dan langsung menuju TKM (Tempat Kejadian Makan) tadi, ketika pas duduk, Saya lihat si Mbah sang penjual lagi asek bercerita dengan 2 orang pelanggan yang juga asek dengan Kopi dan gorengan yang kelihatnnya kok nikmat banget.
"Mbah, saya minta kopi satu ya?
" Oh nggih..kopi apa?
" Kopi itu aja mbah, yang warna biru bungkusnya..
dalam sekajap si Mbah sudah membuat kopi dan menjaikan ke hadapan saya untuk saya sruput,put puuuut...aaah,,,manthaaap.
Sambil menyeruput kopi terbersit dalam pikiran Saya sebuha pertanyaan , berapakah usia si Mbah ini? 60 tahunkah? ah tak mungkin, kayaknya usianya sudah 70 tahun, seusia Ibu saya. Melihat si Mbah, saya teringat dengan Ibu saya yang ada di Kampung dan melihat sosok perempuan seperti ini membuat saya agak sentimental. Ah, betapa dahsyatnya Perempuan tua satu ini, Pagi-pagi sudah siap dan melayani tamu-tamunya. Ibu saya di kampung, jaman dulu juga melakukan hal yang sama, setiap pagi sudah menyiapkan makanan dan dibungkus untuk di jual di warung milik kami.
"Buka jam berapa mbah biasanya?
"Biasanya jam 07 sudah buka le..Iki cah cahe jam Tujuh wes do sarapan...
" oh nggih Mbah..
dalam hitungan menit berikutnya kedatangan lagi 2-3 pelanggan...langsung makan dan minta dibuatkan kopi.... Hmmm..saya jadi berfikir, kalau pagi aja si Mbah sudah mendapatkan lebih dari 10 pelanggan dan rata-rata makan dan ngopi, berapa ya pendapatannya?
Kadang saya mikir juga, kok bisa ya si Mbah masih bertahan? bertahun-tahun buka warung makan ini? berapa ya pendapatan si Mbah? apa strategi marketingnya ( power of dodolane opo?), sajian biasa-biasa saja, tempat juga biasa saja bahkan terkesan ya agak kotor , namun pelanggannya banyak juga, apa sebenarnya kekuatan si Mbah ini? masakan juga biasa biasa saja, Saya aja melihat masakannya nggak nafsu..karena dari tampilan kurang menarik, tapi pelanggan yang datang langsung comot, nyam nyam nyam...entek 2-3 gorengan..
Saya , yang selalu dijejali dengan buku-buku tentang marketing, ilmu pemasaran yang menggunakan bahasa-bahasa keren, misalnya, whta is customer problem? who is customer? weeeh..banyak lagi, siapa segementasi pasar yang pas? apa strategi yang cocok untuk mendatangkan konsumen? aaaah..banyak lagi...Tapi melihat si Mbah ini, kok saya akhirnya berfikir, kayaknya semua Ilmu marketing yang ada, jangan-jangan semua belajar sama si Mbah ini, dan Mbah-Mbah yang lain yang sama memiliki semangat jualannya. kalau pagi saja dia sudah mkendapatkan 20 pelanggan dengan minimal 10,000/transaksi aja sudah 200.000, kalau sampai siang dia bisa mengumpulkan 500.000? wah lumayan juga, 500.000 x 30 = 15.000.000 x 30 persen = 4,5000.000 laba brutonya, gimana kalau sampai malam???sampai sore?, pantesan si Mbah sejak 20 tahun lalu sudah jualan di sini dan masih ada di Sini...
Banyak sosok yang sama dengan si Mbah ini, yang sudah menata bisnisnya puluhan tahun dan sampai hari ini masih bertahan, dan mereka hanya menggunkan "Power of Believe", ya , Kekuatan keyakinan yang dia miliki, karena dia hanya bisa masak dan masak dan melayani orang yang ingin makan pagi , ngopi dan duduk saling bercerita satu sama lainnya dan mereka yakin bisa hidup dengan cara ini. Keren!!!! super manthap!!!Jempol satu laah....hehehe.
Yesss..Pagi ini kembali saya mendapatkan Inspirasi "The Power Of Mbah".
Si Mbah saja yang sudah usia 70 tahunan masih tetap optimis dengan hidup dan usahanya, gimana ceritanya dengan kaum muda milenial yang masih memiliki tenaga kuat dan otak masih fresh namun hanya banyak mengeluh dan bilang "nggangur dan lowongan kerja sedikit". ah..apa yang kamu cari?? bagaimana kamu menjalankan fungsi otak mu yang super canggih yang sudah dianugrahkan Allah buat mu guys?... malu lah sama si Mbah yang super keren ini.