Pagi itu seperti biasa saya mengantar anak gadis untuk sekolah. Jadwal yang sudah tetap yakni setiap pukul 07.00 sampai sekolah pukul 07,20. Jadwal ini saya harus biasakan, karena pada saat ini lah saya bisa bercengkrama dengan si gadis, Saya kadang selalu ingin mendengarkan celotehannya, baik tentang hobinya, kesukaanya, mimpinya dan yang paling hot adalah kejasdian-kejadian sekolah. Dari diskusi dan mendengarkan inilah saya bisa memahami "karakter" anak gadis saya, sehingga saya jadi tau nanti bagaimana harus bersikap. Kadang dia bercerita tentang temannya yang adik, suka bertengkar dan suka menganggu, tapi bukan itu pointnya. Point nya adalah, bagaimana dia mensikap itu semua.
Setelah mengantar sekolah, barulah saya pulang lagi, dan pada saat itu, sekalian saya ingin membeli pisang (pisang batu) untuki di bakar. Pisang ini adalah kesukaan anak gadis. Melewati sebuah jalan yang selalu saya lewati tiap pagi. Maaas, Korannya maas..celetuk seorang gadis tua (hahahhaa....nenek tua siih). Saya buka jendela sambil mencari uang yang harus saya bayarakan. saya langsung tunjuk salah satu koran yang harganya Rp 2000, terus saya menyerahkan uang nilai yang lebih dari 2.000 , pada saat itu saya ingat jumlahnya Rp 10,000. Wah ini kok besar sekali? ujar sang nenek...sambil dia kaget. Mbok, uang kecil mas? masih pagi ini, seru nya. Terus saya bilang , Mbah ambil aja kembaliannya.... Wah jangan mas..saya kasihkan koran satu lagi yaa??. saya bersikukuh udah mbah ambil aja. Waaah...si Mbah nggak enak nih, udah di kasih uyang pagi-pagi, di kasih sangu, ujarnya. dengan perasaan senang. Saya tutup jendela mobil sambil melambaikan tangan.
Luar biasa yaa? seorang perempuan dengan usia yang sudah tua , perkiraan saya usianya ada mendekati 70 sd 80an..di atas usia Ibuku. Masih pagi-pagi dia sudah semangat mencari nafkah..dengan semangat yang luar biasa, ini terlihat dari dandannya yang rapi, senyum yang teruntai tulus. saya berfikir sama istri, betapa hebatnya nenek ini. Semangat dia untuk bekerja dan keluar dari jurang kemiskinan, dia berjuang untuk mencari serupiah demi rupiah lainnya.
Bagaimana bisa, kita yang masih muda, usia masih muda, tenaga masih kuat, pikiran masih fresh, mata masih tajam, pendengaran masih nyaring, rela untuk "kalah" berjuang dengan sang nenek, bahkan di tempat yang lain, ada anak muda yang kerjanya hanya mengemis, atau ngamen dengan hanya tepuk-tepuk tangan sambil sedikit berirama tidak jelas, langsung menengadahkan tangan.
Adajuga suatu kali saya lihat, anak-anak muda (setelannya mahasiswa) biasanya malam-malam, sambil jualan bunga. sejak tahun 1997 saya di jogja sampai sekarang bunga menjadi komoditas jualan mereka, yang menurut saya udah nggak "up-date" lagi. Mbok ya yang kreatif dikit , mungkin cari produk yang lain, misalkan jualan minuman aqua? atau retaifitas lain? atau bunganya dibuat dengan proses kreatifitas lainnyam sehingga menimbulkan minat bagi pembeli. biasanya uang yg mereka dapatkan akan di gunakan untuk mendukung acara mereka, makrab. sosial dan lain-plain., Tapi dengan posisi dia mahasiswa, ini hanya menurut saya, mbok ya yyang lebih kreatif sedikit...berjuang lebih dahsyat...(ini hanya menurut saya aja sih)....atau bagi mereka jualan minuman nggak keren kali ya? jualan snack yang unik nggak keren? karena ribet bawanya, samppai keringatan. atau..atau..atau..yang lainnya.
andai mereka datang ke saya..saya ajak jualan ...
banyak produk di Mall-mall yang bisa di jualkan...banyak produsen yang bisa di ajak kerjasama penjualan..atau mungkin itu bterlalu menyita waktu, pikiran dan tenaga, akhirnya memilih hanya jualan bunga saja..entahlah..hanya Allah yang tahu jawabannya..
Ayolah kawan....
Hidup ini hanya sementara...
selama tenaga masih kuat, gunakan dengan sebaik-baiknya.
Kalau nggak tau, cari tahu< belajar, belajar dan belajar..
trus punya kemauan yang kuat.kemauan seperti nenek yang cantik dan tulus tadi...
No comments:
Post a Comment